Gratis ongkir pemesanan di atas Rp 600.000

Cara Membuat Lotion Dengan Minyak Nabati dan Polawax GP-200

Lotion merupakan produk perawatan kulit yang digunakan untuk memberikan dan menjaga kelembapan ekstra pada tubuh. Lotion ini biasanya memiliki tekstur ringan, mudah menyerap, dan mengandung bahan-bahan yang membantu menjaga kulit tetap lembut, halus, dan terhidrasi.

Bahan utama yang berfungsi sebagai moisturizing agent pada body lotion adalah minyak.

Ya kalian juga sebetulnya bisa langsung menggunakan body oil, tapi tidak semua oil bisa menyerap dengan cepat dan cenderung meninggalkan rasa lengket dan licin di kulit.

Selain itu juga body oil cenderung bersifat occlusive, lebih berfungsi untuk mengunci kelembaban pada kulit.

Maka dari itu kita ingin menggunakan lotion yang teksturnya cenderung lebih ringan dan bisa memberikan efek hydration, moisturizing dan occlusive juga dalam satu fungsi.

Terdapat dua kategori utama bahan dasar untuk body lotion: berasal dari minyak nabati dan berasal dari minyak bumi seperti mineral oil, paraffinum liquidum dan petrolatum.

Meskipun keduanya dapat memberikan kelembapan pada kulit, terdapat perbedaan signifikan dari asalnya dimana minyak nabati berasal dari tumbuhan sedangkan turunan minyak bumi berasal dari fossil hewan, plankton dan alga. Kalian bisa melihat lebih detail perbedaannya disini.

Disini saya mencontohkan dengan menggunakan bahan yang juga sama seperti dalam pembuatan castile soap, yaitu dengan menggunakan minyak kelapa dan zaitun.

Anatomi Dasar Body Lotion

Lotion merupakan produk yang dihasilkan dari proses emulsifikasi.

Emulsi adalah campuran dari dua cairan yang tidak larut, seperti minyak dan air. Perlu ditambahkan zat pengemulsi yang dapat membantu tercampur secara homogen dan stabil.

Tipe emulsi yang biasanya dijumpai dalam produk personal care ada 2 jenis yaitu minyak dalam air atau lebih dikenal oil in water (o/w) dan air dalam minyak atau water in oil (w/o).

Dua tipe emulsi tersebut biasanya bergantung dari zat pengemulsi yang digunakan, untuk zat pengemulsi dengan nilai HLB tinggi biasanya menghasilkan tipe emulsi o/w, sedangkan zat pengemulsi dengan nilai HLB rendah menghasilkan tipe emulsi w/o.

Kalian bisa membaca lebih detail mengenai emulsi disini, karena kalau saya jelaskan bisa cukup panjang.

Saya juga disini hanya akan membahas mengenai pembuatan lotion dengan tipe emulsi minyak dalam air (o/w) karena ini yang lebih mudah dibuat dibanding dengan tipe emulsi air dalam minyak.

Air

Body lotion biasanya memiliki kandungan air yang tinggi yaitu sekitar 70-80% dari total formula, tergantung dari seberapa banyak emollient yang kalian gunakan.

Bisa juga mengganti air dengan menambahkan bahan-bahan yang bersifat humektan seperti glycerin, propanediol, butylene glycol, betain, dll.

Atau bisa juga mengganti air ini dengan beberapa ekstrak water based atau hydrosol untuk memberikan nilai jual lebih.

Emulsifier

Zat pengemulsi atau biasa disebut emulsifier ini juga merupakan surfaktan.

Seperti yang sudah kita ketahui dari pembuatan sabun mandi dengan surfaktan, zat ini juga ada berbagai macam jenisnya, umumnya untuk emulsifikasi oil in water (o/w) biasanya menggunakan nonionik, kationik dan anionik.

Ada berbagai macam jenis emulsifier di pasaran, dari yang natural hingga yang tradisional (PEG based).

Sebelum menentukan mau memakai yang mana kalian juga harus mempertimbangkan berbagai factor seperti sistem preservative, pH akhir produk, kompatibilitasnya dengan bahan aktif yang akan kalian tambah, apakah mau menggunakan yang natural atau sintetis dan faktor harga apakah masuk.

Untuk penggunaannya tiap emulsifier juga berbeda-beda, jadi kalian harus memperhatikan rekomendasi penggunaan dari supplier atau dari bulletin tiap produknya. Ada yang efektif dalam konsentrasi rendah (<1%) seperti Sodium Stearoyl Glutamate, ada juga yg baru efektif dalam konsentrasi tinggi (>5%) seperti Glyceryl Stearate SE.

Biasanya, konsentrasinya bergantung dari seberapa besar fase minyak yang digunakan atau sekitar 20-25% dari fase minyak, ini bervariasi tiap jenis emulsifier untuk lebih jelasnya bisa dicek dari rekomendasi suppliernya.

Beberapa jenis emulsifier oil in water (o/w) Ethoxylates / PEG based untuk formula ekonomis:

  • Cetearyl Alcohol (and) PEG-20 Stearate (Polawax GP-200)
  • Cetearyl Alcohol (and) Ceteareth-20 (Emulgade 1000 NI)
  • Glyceryl Stearate (and) PEG-100 Stearate (Arlacel 165, Emulgade 165, Simulsol 165)

Beberapa jenis emulsifier oil in water (o/w) Natural untuk formula premium:

  • Cetearyl Olivate (and) Sorbitan Olivate (Olivem 1000)
  • Cetearyl Alcohol (and) Cetearyl Glucoside (Montanov 68, Emulgade PL 68/50)
  • Glyceryl Stearate (and) Polyglyceryl-6 Palmitate/ Succinate (and) Cetearyl Alcohol (Natragem EW)
  • Glyceryl Stearate SE (Bergacare GS SE, Cutine GMS-SE, Tegin Pellets, dll)
  • Sodium Stearoyl Glutamate (Eumulgin SG, Emulium Dolcea)

Disini saya akan memberikan contoh menggunakan Polawax GP-200 (Cetearyl Alcohol (and) PEG-20 Stearate) sebagai emulsifier utamanya.

Minyak / Emollients

Emolien biasanya diartikan sebagai bahan yang memberikan rasa halus, lembut atau berminyak pada kulit.

Untuk produk emulsi O/W juga bervariasi konsentrasi emolientnya biasanya berkisar dari 5-40%. Untuk facial moisturizer biasanya sekitar 5-15%, untuk hand and body lotion biasanya sekitar 10-40%. Tergantung dari feel yang ingin kalian dapatkan.

Bahan-bahan yang berfungsi sebagai emolien ini biasanya berupa asam lemak, butter, ester, fatty alcohol, hydrocarbon, minyak nabati dan silicones.

Sangat bervariasi jenisnya dan tiap jenis emollient tersebut juga memiliki feel maupun spreading rate yang berbeda juga, biasanya dikategorikan ke dalam 4 jenis spreading rate Waxy, Slow, Medium dan Fast Spreading.

Beberapa emollient yang bersifat Waxy ini contohnya Beeswax, Candelilla Wax, Cocoa Butter, Shea Butter, dll.

Slow spreading rate ini contohnya minyak-minyak nabati seperti minyak kelapa, sunflower, sweet almond, olive, dll.

Medium spreading rate emollient ini contohnya Caprylic/Capric Triglyceride, Coco-Caprylatae/Caprate, Isostearyl Isostearate, Dimethicone 5-50 cst, Squalane, dll.

Fast spreading rate emollient ini contohnya Cyclomethicone, Dicaprylyl Carbonate, Isopropyl Myristate, Isostearyl Isostearate, dll.

Untuk lebih mudahnya disini saya akan menggunakan minyak yang biasa ditemui yaitu menggunakan minyak kelapa, jojoba dan olive.

Rheology Modifier

Rheology modifier atau pengubah reologi adalah zat yang digunakan dalam produk kosmetik untuk mengontrol konsistensi, aliran dan tekstur produk.

Ada berbagai macam jenis rheology modifier di pasaran, dan masing-masing itu juga punya berbagai macam fungsi yang berbeda-beda, tetapi tetap fungsi utamanya sebagai pembuat tekstur pada produk emulsi.

Beberapa jenis rheology modifier yang biasa digunakan carbomer, cellulose, natural gum, polymer, dll.

Dalam tutorial ini saya akan menggunakan xanthan gum sebagai pengentalnya, karena cenderung cukup mudah aplikasinya tidak perlu penetralisir.

Active (Extract , Protein atau Vitamin)

Kalian bisa juga mensubstitusi air yang digunakan dengan beberapa ekstrak botanik cair ataupun hydrosol untuk lebih memberikan nilai jual.

Protein dan Vitamin juga bisa kalian tambahkan yang lebih memiliki berbagai fungsi untuk kulit.

Untuk ekstrak aktif maupun protein dan vitamin ini bervariasi konsentrasi penggunaannya jadi kalian bisa cek masing-masing bahan untuk menambahkannya.

Supaya lebih simpel disini saya juga hanya akan menambah Vitamin E (Tocopheryl Acetate) untuk memberikan kelembutan dan meningkatkan elastisitas kulit.

Preservative dan Chelating Agents

Semua produk yang menggunakan air sudah pasti wajib untuk menambahkan anti bakteri (preservative).

Kalian bisa menambahkan beberapa jenis preservative natural dari organic acid seperti sodium benzoate, potassium sorbate, ataupun yang sudah dalam blends seperti euxyl k 903. Atau bisa membuat kombinasi antara phenoxyethanol dengan organic acid.

Untuk tiap jenis preservative juga memiliki ketentuan yang beda-beda, biasanya untuk yang natural preservative atau organic acid itu mengharuskan pH produk dibawah 6.

Antioksidan atau chelating agents ini juga bisa kalian tambahkan, ini berguna untuk mencegah oksidasi dari emollient yang digunakan, selain itu juga beberapa jenis chelating ada yang bisa meningkatkan kinerja preservative juga.

Kalian bisa menggunakan konvensional chelating agent seperti EDTA atau jika ingin yang natural bisa menggunakan Trisodium Ethylenediamine Disuccinate (EDDS), Tetrasodium Glutamate Diacetate (GLDA) atau Caprylhydroxamic Acid.

Atau bisa juga dengan menggunakan Tocopherol jika ingin memberikan antioksidan pada produk.

Aroma

Untuk aroma kalian bisa menggunakan essential atau fragrance oil. Atau jika kalian menambahkan beberapa ekstrak botanik biasanya sudah ada sedikit aromanya.

Untuk aroma ini biasanya sekitar 0,1-0,3% untuk facial moisturizer dan 0,5-1% untuk hand and body lotion.

Formula Lotion Dengan Polawax GP-200

FaseINCI / Trade NameFungsiJumlah
AAquaq.s.
Sodium BenzoatePreservative0,5%
Xanthan Gum (Keltrol CG-SFT)Rheology Modifier0,3%
GlycerinHumectant5%
BCetearyl Alcohol (and) PEG-20 Stearate (Polawax GP-200)Emulsifier3%
Cocos Nucifera (Coconut) OilEmollient5%
Olea Europaea (Olive) Fruit OilEmollient4%
Cetearyl Alcohol (Lanette O)Consistency1%
Glyceryl Stearate (Cithrol GMS 40)Consistency1%
Simmondsia Chinensis (Jojoba) Seed OilEmollient1%
CTocopheryl Acetate (Vitamin E Acetate)Vitamin E0,5%
Phenoxyethanol (and) Caprylyl Glycol (Nipaguard SCP)Preservative1%
Essential / Fragrance OilAroma0,5-1%
Citric Acid Solution 10%pH Adjustersampai pH 4,5-5,0

Fase A

Fase Air atau Fase A pada formula lotion ini saya menambahkan glycerin yang berfungsi sebagai humektan dan bisa meningkatkan kelembaban dari lotion yang dibuat, alternatifnya kalian bisa menambahkan bahan-bahan humektan lain seperti propanediol, butylene glycol, pentylene glycol, betain, dll.

Gliserin ini juga dalam formulasi memiliki fungsi untuk menyebarkan Xanthan Gum juga, dimana Xanthan Gum ini juga berfungsi sebagai pengental lotion.

Saya juga menggunakan kombinasi preservative organic acid dan phenoxyethanol yaitu Nipaguard SCP (Phenoxyethanol (and) Caprylyl Glycol) dan Sodium Benzoate. Sodium Benzoate ini ditambahkan saat awal dan ikut melalui proses pemanasan dan tahan hingga suhu 80°C.

Fase B

Fase Minyak atau Fase B pada formula lotion ini saya menggunakan konsentrasi minyak kurang lebih 11%, karena saya ingin membuat lotion yang ringan di kulit dan tidak terlalu berasa berminyak.

Kombinasi emollient yang saya gunakan disini juga hanya menggunakan minyak-minyak nabati biasa seperti minyak kelapa, jojoba dan zaitun.

Untuk emulsifiernya disini saya menggunakan Polawax GP-200 (Cetearyl Alcohol (and) PEG-20 Stearate), ya ini bukan merupakan emulsifier natural karena masih menggunakan PEG, ini untuk contoh saja supaya lebih mudah karena polawax ini emulsifier yang cukup stabil dalam penggunaan rendah (2-3%) dan dalam rentang pH yang luas.

Untuk konsentrasinya juga biasanya Polawax ini sekitar 25% dari fase minyak, karena fase minyak saya sebesar 11% maka paling tidak membutuhkan 3% Polawax.

Saya menambahkan cetearyl alcohol dan glyceryl stearate untuk lebih memberikan stabilitas tekstur cream dengan feel yang ringan.

Fase C

Fase Dingin atau Fase C ini merupakan fase penambahan bahan yang sensitif terhadap panas.

Vitamin E ini juga sebetulnya bisa ditambah saat di fase minyak, tp untuk lebih mudahnya bisa ditambah pada fase dingin ini.

Kalian bisa menambahkan pewangi juga pada fase ini atau menambahkan bahan-bahan yang sensitif terhadap panas yang lain seperti ekstrak botanik dan sejenisnya.

Walaupun Nipaguard SCP ini tahan hingga suhu 80°C, lebih aman ditambahkan saat fase dingin di bawah 40°C.

Pada fase ini juga harus saya sesuaikan pHnya karena menggunakan Sodium Benzoate sebagai preservative mengharuskan ada di kisaran pH 4.5-5.0. Untuk menurunkan pH lotion bisa menggunakan citric acid, atau alternatifnya kalian juga bisa menggunakan lactic acid.

Langkah-langkah Membuat Lotion Dengan Polawax GP-200

  1. Siapkan alat dan bahan.

    Bersihkan alat dengan isopropyl alcohol untuk meminimalisir kontaminan.

  2. Larutkan Fase A.

    Timbang xanthan gum dan dispersikan ke dalam gliserin supaya tidak menggumpal saat diaduk. Kemudian larutkan ke dalam air dan tambahkan sodium benzoate ke dalam Fase A. Aduk hingga larut semua dan teksturnya kental.

  3. Timbang Fase B di Tempat Terpisah.

    Masukkan dan timbang semua bahan-bahan Fase B.

  4. Panaskan Masing-masing Fase.

    Dengan menggunakan water bath atau plat pemanas, naikkan suhunya hingga 75-80°C, lelehkan semua bahan di Fase B.

  5. Masukkan Fase A ke Fase B.

    Tuang semua bahan Fase A ke Fase B, kemudian campur menggunakan blender atau homogenizer selama 5 menit sampai homogen.

  6. Dinginkan Hingga 40°C.

    Sambil diaduk turunkan suhu hingga 40°C. Kemudian tambahkan bahan-bahan pada Fase C.

  7. Sesuaikan pH Akhir.

    Dalam formula ini salah satunya menggunakan sodium benzoate sebagai preservative, sehingga pH akhir harus berkisar antara 4,5-5,0 supaya efektif melindungi. Buat larutan citric acid 10%, kemudian teteskan hingga pH ke kisaran 4,5-5,0.

Body Lotion Ringan Untuk Pengunaan Sehari-hari

Formula body lotion ini menghasilkan lotion dengan tekstur yang creamy dan tidak meninggalkan rasa lengket atau berminyak pada kulit setelah aplikasi. Sangat cocok untuk iklim tropis dan penggunaan sehari-hari.

Sekarang giliranmu! Coba buat sampel produk lotion dengan Polawax GP-200, atau rancang formulamu sendiri.

Langganan Newsletter

Dapatkan update tutorial terbaru, ebook gratis dan berbagai penawaran menarik lainnya.

We don’t spam!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bahan Baku Asli

Bahan baku terbaik dan bersertifikat.

100% BPOM

Produk dengan izin bpom.

Pengiriman Aman dan Cepat

Melalu cargo maupun reguler.

Pilihan Pembayaran

Pembayaran mudah dan aman.